The window where I find my self wishing I was somewhere else (at Wisma Dara VIP B)

The window where I find my self wishing I was somewhere else (at Wisma Dara VIP B)

The window where I find my self wishing I was somewhere else. (at Wisma Dara VIP B)

The window where I find my self wishing I was somewhere else. (at Wisma Dara VIP B)

Saat senja, ada batas pembeda antara ombak dan pantai

Senja. Aku tak tau dimana cinta. Aku hanya memasrahkan segalanya kepada gerak awan. Di tiap sorenya aku membiarkan dia berbicara lewat hujan ataupun gurat guratan jingga. Karena segala yang bisa kulakukan hanyalah diam.

Aku kaku dan berbatas. Aku gerak aku ringkih. Aku tidak buta tapi tak bisa bicara. Aku sedih dadaku bergetar. Aku senang orang tak akan sadar.

Aku jadi seperti pilar pilar penopang gerak gerik kehidupan. Mati rasa. Berdiri kaku. Sulit melawan. Terpaksa harus tahan disaat panas dan kehujanan.

Aku melihat orang, normal dengan segala fungsi fisiknya. Dengan kesempurnaan akalnya. Dengan sebaik-baiknya perasaannya. Masih ingin melawan takdir. Masih bicara tentang hal yang baginya tidak adil.

Maka jangan tanyakan adil atau tidak padaku. Kalau saja aku tak kenal Tuhan, aku sudah meronta meminta keadilan. Meminta nasibku yang bukan seperti sekarang. Aku tak bisa berbahasa dengan baik. bahasa yang biasa orang-orang mengerti. Aku lamban mengartikan sikap. Sikap yang biasa orang-orang lakukan.

Maka aku dengan duniaku. Dunia yang tidak mereka tahu. Aku dengan langitku. langit yang tidak mereka lihat. Aku dengan bintangku. Bintang yang tidak mereka tunjuk. Aku dengan matahariku. matahari yang tak pernah mereka rasakan. Aku dengan taman bermainku. Taman yang bukan tempat sejuk bagi mereka. Aku dengan jalanku. Jalan yang tak pernah mau mereka tapaki.

Jika hidup sebatas mimpi, aku hanya ingin tahu kapan aku akan terbangun.

Jika hidup sebatas permainan, aku hanya ingin tahu kapan pertaruhan akan selesai.

Jika hidup hanya sebatas jalan bebas hambatan, aku hanya ingin tahu dimana letak pintu gerbang keluar.

JIka hidup hanya sebatas siang menuju sore, aku hanya ingin menunggu kapan tibanya malam.

Jika hidup hanya sebatas malam menjelang fajar, aku tidak ingin tertidur agar tahu rasanya pagi.

Jika hidup hanya sebatas senja,

Lepaskanlah aku dari garis batas ombak dan pantai.

Yang didalamnya terdapat dunia berbeda,

antara aku dan kamu.

- dari kisah mereka yang “luar biasa”. Yang sulit berbicara, sulit mengucap meskipun sekata, sulit mengartikan dunia didepannya, sulit mencerna bahasa, tapi punya intuisi yang diluar logika kita -

Bandung, 3 Juni 2013

Rumah Baru

Aku hanya cukup menginginkanmu tanpa harus aku cari alasan kenapa aku menginginkanmu. Aku hanya cukup mempertahankan apa yang aku mau tanpa aku harus tau nantinya kamu akan berjalan di sampingku atau tidak. Aku hanya cukup tau kamu ada tanpa aku harus memaksa kamu untuk selalu ada. Aku ingin menyederhanakan segala rasa dalam satu tempat utuh. Rumah baru.

Senja Sedang Bercerita

Untuk sang Senja, tidak ada yang bisa dipastikan di dunia ini, tidak terkecuali waktu. Tidak terkecuali ikatan malam dengan fajar yang kadang beranjak terangnya ditutupi awan. Dimatanya, semua serba saru. Begitupun manusia, saru membaca gestur serius atau tidak, saru membaca benar atau salah. Sampai saru menentukan langkah dengan hati atau logika. Semuanya jadi relatif, karena matanya adalah rumah dari banyak perspektif yang selalu menabung banyak kemungkinan. kadang-kadang Senja benci hukum relativitas. Sebab dia akan membawanya kedalam garis antara iya, tidak atau mungkin, yang dapat berubah sewaktu-waktu. Jika semuanya serba relatif, berarti tidak akan pernah ada yang mutlak.

Untuk sang Senja, punya kesenangan berdiri diujung jingga adalah hal yang tidak biasa untuk sebagian orang. Karena dengan begitu dia bisa berdamai dengan alam. Berdamai dengan mimpi-mimpi yng menyuruhnya cepat berlari. Berdamai dengan pintu gerbang malam yang seringkali menawarkan rasa kedinginan. Berdamai dengan segala keheningan ketika tidak ada satupun jawaban yang dia dapat hari itu. Senja seolah-olah ingin menguras langit menjadi lautan pelangi. Bukan malam dimana banyak orang memuja bintang dan bulannya.

Untuk sang Senja, afeksi hanya ilusi, sebelum itu bisa dimiliki. Seperti apa kata hatinya, semuanya memang serba saru. Bahkan untuk menentukan apa yang Senja mau, dia harus mengikuti permainan. Baginya, menentukan keputusan seperti melempar dadu diatas meja perjudian. Segalanya dipertaruhan. Termasuk harga diri dan segala kekuatan yang dia mampu. Maka, dia masih percaya bahwa hidup adalah permainan. Permainan yang memang harus berani bertaruh.

Di batas senja sore ini, Senja bertutur, akulah bagian dari partitur tempat berkumpulnya segala tangga nada, segala rasa. Partitur yang mengalun sampai bait paling akhir. dan selesai.

Satu lusin dari jumlah kita

Semakin hari, aku rasa semesta semakin membesar. Semesta yang didalamnya pernah ada kita dan cerita milik bersama. Semesta yang menyimpan kebahagiaan dan kelelahan, atau kadang kesedihan. Semesta yang lambat laun membangun benteng pembatas sendiri untuk satu lusin jumlah kita.

Setiap pagi aku menyerahkan takdir kepada semesta. Terserah dia akan berbuat apa nanti. Akan bagaimana nanti. Akan seperti apa waktu yang aku punya nanti. Aku hanya terkadang bersemangat memulai, tapi juga kemudian lelah diakhir. Aku hanya terkadang lelah jauh dari kalian, padahal kalianlah morfin yang legal selama ini.

Banyak hal yang sudah mengganggu ku selama ini. Banyak hal yang sebenarnya ingin dibagi. Ingin kuringankan bersama kalian. Di tepian tembok bersofa dengan secangkir teh atau kopi, atau hanya rintik hujan sore, atau hanya diam tak tentu arah bicara. Tapi aku selalu diam lagi tak ingat luka. 

Jika aku punya donat satu lusin, aku hanya ingin memakan satu potong saja. Aku mau, menunggu kalian, mengambil satu potong donat bagian kalian. Sebagai gantinya, kalian harus berbagi kelelahan dan kebahagian bersama kotak donat ini. Karena siapa yang tahu sampai kapan donat kita masih berasa manis..

Kopi Terakhir

Jadi, kamu membiarkan 2 cangkir kopi kita pagi ini menjadi dingin. Kamu juga berubah dingin. Pagi ini kamu ubah sedemikian rupa sepekat kopi hitam yang kamu pesan. Aku dengan bodohnya masih duduk, diam didepanmu menunggu segalanya mencair. Menunggu sesuatu bergerak, meskipun itu harus cangkir kopiku yang kau banting hingga isinya berserak.Menunggu sesuatu bersuara, meskipun itu pecahan kaca. Menunggu sesuatu menyeruak, meskipun harus dimulai dengan suara kamu yang berteriak “Kamu Jahat.” 

Atmosfir diantara kita kosong. Entah siapa yang membuatkan dinding begitu tebal diatas meja yang menjadi penghalang aku dan kamu berhadapan. Dinding bias untuknya tembus pandang sehingga aku masih bisa menjelaskan bagaimana rona mukamu pagi ini. Muram tak mekar. Kuat sekali inginku untuk bilang, “Jangan begitu.”

Sepanjang pagi ini, berjam-jam kamu masih memagut diam dibingkai bunga mawar putih dan secangkir kopi yang belum berkurang intensitasnya. Sekarang dia sudah benar-benar dingin. Sudah benar-benar tidak enak diminum. Jika kamu hanya ingin menyimpan saja secangkir kopi itu sebagai hiasan meja pagi ini, kenapa kamu selalu memesannya setiap pagi? Sepertinya kamu harus mulai menggantinya nanti, karena secangkir kopi dengan rasa lain masih bisa dipesan sedangkan takdir dengan jalan lain belum tentu bisa dipesan pagi ini. “Ya, benar.”

Aku masih saja melihat bola matamu yang kecoklatan seperti kopi dengan creamer yang ada di hadapanku. Anehnya, akupun membiarkan cangkir ini tak berkutik dan isinya masih penuh, rata, tak goyang, dan sama-sama mulai dingin. Tidak seperti rutinitas kita di pagi-pagi sebelumnya yang membiarkan meja ini ramai dengan suara benturan cangkir dengan meja, canda tawa, obrolan berita pagi, atau hanya rencana-rencana kecil kita nanti. Kenapa tidak kamu mulai katakan saja pada pelayannya “Besok aku tak mau pesan kopi ini lagi.”

Tidakkah kamu tau? aku merelakan takdir ini datang padaku. Aku merelakan cangkir-cangkir didepan kita diacuhkan hingga isinya mendingin dan tak enak lagi diminum. Aku rela bunga diatas meja itu berhenti mekar. Aku rela kamu tak lagi memesan kopi hitam pekat kesukaanmu. Aku rela ditakdirkan duduk dihadapanmu dengan dinding tebal tembus pandang yang menghalangi kita. Aku sudah merelakan hampir semuanya. Hanya saja aku belum sempat mengatakan “Maaf aku pergi tanpa bisa kembali.”

Hei, sudah jam 9 . Pergilah dengan baju hitam-hitam tanpa harus ada tangisan. Aku minta kamu bawakan karangan bunga untuk kamu simpan diatas rumahku sekarang. jangan lupa kamu bilang “Selamat jalan.”

Tanganku adalah nampan untuk mewadahi deras air matamu. Pundakku adalah tempat untuk kau titipkan kegelisahanmu. Mataku adalah lensa untuk merekam suka dukamu dan aku membiarkan segala rasamu bertumpah ruah dalam setiap waktuku.

Jatinangor in the middle of the night.

Fly after all

After this “cold war”, am still on my knees, let my fears flows. It’s been a while I never took this way. It’s been a while since I get you go. It’s been a while and I always try.. And you always fly after fall..after all..

If then i see you in the middle of city, in the night where i can’t sleep earlier. I will take you to the window beside that coffe shop. I’ll tell you that the window is still staunch to catch falling rain. I’ll tell you that Im still staunch to catch you fall and again, fly, after all..

Jatinangor. 10.19pm. 18Oct’12

Aku berusaha semampuku untuk membunuhmu. Ini tak pernah masuk akal dan tak pernah pula bisa kuuraikan. lebih dari 720 hari aku tanpa sadar menghitung dan tanpa sadar bangun setelah waktu perlahan menggulung kenangan. Tanpa sadar terbangun setelah kamu menamparku dengan senyuman dan menjatuhkanku dengan keacuhan.

Ini, kamu yang tak peka atau aku yang terlalu buta?

Jatinangor, 2.25am, 12 October 2012

Load More

Older>

The Rythm of Life

Citra Wulandary Yunisha
Padjadjaran University Class of 2009 · Public Relations · Faculty of Communication Science

Latest Tweets

Sorry, the Twitter API is overloaded. Try again later.